Mengapa Bangau Tak Bisa Terbang

Pada zaman dahulu kala, burung bangau dapat terbang tinggi. Namun karena dapat terbang dengan indah, ia menjadi sombong dan egois. Bangau merasa bangga pada dirinya sendiri yang cantik, anggun dan rupawan dengan bulunya yang putih bersih. Ia bersahabat dengan kepiting kolam air tawar.

Suatu waktu Bangau yang sedang terbang merasa kelaparan karena belum makan. Tak sengaja dari kejauhan, ia melihat sebuah kolam ai tawar. Lantas ia segera pergi kesana untuk mencari ikan sebagai santapan siangnya.  Sampai disana tak sengaja ia bertemu dengan kepiting, sahabatnya.

“Hai Bangau,” sapa Kepiting lebih dulu.

“Hai Kepiting, sedang apa kau disini,” tanya Bangau.

stork

“Aku sekarang tinggal di kolam ini, Bangau. Biarpun kolam ini kecil, aku senang -tinggal disini karena disini banyak ikan-ikan temanku. Jadi aku tak pernah merasa kesepian. Mereka sangat baik,” jawab Kepiting. Mendengar itu, otak licik Bangau muncul untuk mengerjai kepiting.

“Eh kepiting tahukah kau di atas bukit sana ada kolam yang lebih indah daripada disini”, cerita Bangau. “Kolam disana terdapat air terjun yang indah dan airnya juga sangat jernih hingga kau dapat bercermin di airnya.”

“Benarkah bangau?”, tanya Kepiting antusias.

“Iya kepiting, aku bisa mengantarmu kesana jika kau mau”, ujar Bangau menawarkan bantuan.

“Tapi aku tak bisa meninggalkan sahabatku, ikan-ikan disini. Lagipula aku senang tinggal disini. Sudahlah tak apa,” jawab Kepiting lagi.

“Jangan khawatir, Aku bisa membantu teman-teman ikanmu untuk pindah kesana. Mereka bisa naik ke dalam paruhku dan akan kubawa mereka terbang kesana”, ujar Bangau dengan rencana liciknya.

“Benarkah bangau? Kau mau melakukannya. Ah kau baik sekali”, puji Kepiting.

“Ah bukan apa-apa, kita kan teman”, jawab Bangau lagi.

“Baiklah kalau begitu, aku mau. Tolong antar teman-temanku lebih dahulu. Setelah itu baru kau antar aku kesana,” ucap Kepiting.

Akhirnya Bangau membantu ikan-ikan pindah ke kolam baru. Sedikit demi sedikit ikan-ikan dinaikkan ke dalam paruh Bangau. Bangau mulai dengan membawa lima ikan di dalam paruhnya yang berisi air agar ikan-ikan dapat bernafas. Lalu pergilah Bangau pergi ke kolam indah yang ia ceritakan pada Kepiting tadi.

“Baiklah, hati-hati ya Bangau.”, ucap Kepiting sambil melambaikan capitnya ke arah Bangau yang terbang menjauh mengantar ikan-ikan.

Tak berapa lama, Bangau kembali lagi dengan paruhnya yang sudah kosong bercerita bahwa ia sudah memindahkan lima ikan tersebut ke kolam yang baru. Kemudian Bangau kembali mengisi paruhnya dengan tumpangan ikan-ikan selanjutnya. Begitu seterusnya hingga pada ikan-ikan yang terakhir.

“Ini yang terakhir, Bangau. Selanjutnya kau bawa aku kesana. Hati-hatilah”, ujar Kepiting.

“Tenang saja Kepiting, mereka pasti akan sampai dengan selamat.”, ujar Bangau kemudian.

Tak berapa lama setelah bangau pergi mengantar ikan-ikan terakhir di paruhnya, Kancil melewati kolam tempat kepiting tinggal. Lalu Kancil menyapa Kepiting.

“Hai kepiting, apa kabar?,” sapa Kancil.

“Hai juga Kancil, kabarku baik,” jawab Kepiting. “Aku berencana akan pindah dari kolam ini. Bangau membantu aku dan ikan-ikan pindah ke kolam disana yang lebih indah,” cerita Kepiting.

Kancil tampak heran karena dalam perjalannya ia sempat bertemu dengan Bangau. “Bangau? Tapi sejak tadi aku lihat Bangau sedang asik makan ikan disana,” Kancil keheranan. “Malah sampah-sampah tulang ikan bekas makannya tak dibersihkannya.

Rupanya ikan-ikan teman kepiting yang hendak dibawa pindah ke kolam lain disantap dengan rakusnya oleh Bangau. Bangau berbohong pada Kepiting sahabatnya sendiri. Mendengar ucapan Kancil tersebut, Kepiting marah besar. Ia ingin membuat perhitungan dengan Bangau yang telah berbohong kepadanya.

Kemudian tampak kedatangan Bangau terbang menghampiri Kepiting tanpa rasa berdosa. Bangau tidak mengetahui bahwa Kepiting sudah mengetahui perbuatan jahatnya yang telah memakan ikan-ikan teman Kepiting. Lantas ketika Bangau turun ke daratan, tanpa basa basi Kepiting langsung menyerang Bangau dengan capitnya. Bangau kesakitan, ia ingin segera terbang pergi tetapi Kepiting dengan buas menyerang sayap Bangau hingga ia tak mampu terbang lagi. Bangau hanya dapat meminta ampun atas perbuatannya.

Bangau memahami atas sikap Kepiting yang marah terhadapnya. Ia telah merusak kepercayaan yang telah diberikan Kepiting kepadanya. Bangau menyesal telah berbuat jahat pada Kepiting, ia berjanji tidak akan melakukannya lagi. Namun Kepiting sudah terlanjur marah dan persahabatan mereka telah dirusak oleh perbuatan Bangau. Alhasil Bangau tak lagi dapat terbang dan hanya dapat berjalan di sekitaran air sambil mencari ikan. Sejak saat itulah seluruh keturunan Bangau tak dapat terbang seperti burung bangau yang dapat kita lihat sekarang.

Nezar Ray | 24/09/2017

Advertisements

Pergi Sisakan Luka

Kenangan menyisakan luka
Mengenangmu jadikan perih
Alasanmu bualan hampa
Tanganku tak disambut, kau pergi

Benci dengan semua tentangmu
Benci dengan hadirmu yang lalu
Harapan hanya ada di angan-angan
Kebodohan menguasaimu, tak peduli aku

Jika waktu dapat kuputar ulang
Takkan kulakukan karena akhir akan sama
Kerasnya hatimu takkan melunak
Pikiranmu juga tak akan sama denganku

Kau memilih sembunyi, hindari kehangatan
Bertemankan gelap, menjauh dariku
Lupakan kenangan seolah tak ada
Sisakan tanda tanya, lalu pergi

Nezar Ray | 27/08/2017

Keraguan

Waktu berlari secepat angin
Keraguan kini merajaiku
Ketakutan menyelimuti anganku
Aku kembali menimbang arah

Mataku menatap ke depan
Kakiku kaku tak sanggup melangkah
Sumpah serapah kutujukan untukku
Peluang menertawaiku yang bodoh

Aku ragu, juga takut
Pada suatu hal yang fana
Mengulang memori pahit
Yang dulu pernah kubuat

Nezar Ray | 21/03/2017

Terhanyut Ilusi Cinta

Kenangan yang sudah terlupa
Entah bagaimana kembali terbayang
Seseorang yang entah kemana
Menari kembali dalam ingatan

Bukan maksudku mengingat kembali
Juga bukan inginku padanya
Aku sudah menyerah padanya
Tapi mengapa bayangnya menggodaku

Seketika rasa hangat itu hadir lagi
Rasa ingin tak ingin, aku larut oleh bayangnya
Kehangatan itu menyerap ke seluruh tubuh
Aku pun terhanyut dalam ilusi cinta

Nezar Ray| 17/11/2016

Dingin Menyiksa

Dingin… Aku kedinginan
Hawa dingin ini menusukku
Tak mampu lagi ku menahan
Aku menggigil dibalut kebekuan

Imajiku menampakkan bayang kehangatan
Rindu akan rasa hangat yang dulu memelukku
Hingga aku tak kenal lagi kehangatan itu
Memoriku seketika rusak oleh dingin

Kenapa tak kau bunuh saja aku
Biarkan aku mati tanpa merasa
Daripada harus dingin ini menyiksaku
Aku terbelenggu oleh dingin yang kau berikan

Nezar Ray | 30/10/2016

Kisah Manis Menjejakkan Luka

Tetesan kelabu membirukan hati
Menggoreskan kalbu menjejakkan luka
Ruang kosong yang kau tinggalkan,
kini menyisakan cerita
Cerita yang dulu manis
Namun kini perlahan menjadi hambar
Dalam kelam rasa, hatiku menjadi mati rasa
Terdiam ku ketika terlintas kisah lalu
yang sengaja kau tinggalkan
Kanvas putih yang kau goreskan dengan kuas berwarna
Kini warnanya memudar
Perlahan menghitam seiring kepergianmu

Nezar Ray | 28/03/2016

Teringat Olehnya

Kenangan mendobrak kesendirianku
Teringatkan pada kisah lama
Juga sosoknya yang hangat
Seketika mendatangkan rindu di hati

Suara hangatnya yang meneduhkan hati
Kembali terngiang dalam benakku
Membuka cerita lama yang sudah berganti
Pikiranku terpenuhi oleh rasa rindu

Hatiku yang telah berdamai kemarin
Kusadari hanya kebohongan belaka
Aku tak mampu melupakannya
Masih menginginkan hadirnya lagi

Nezar Ray | 01/08/2016

Hujan

Warna langit kembali kelabu
Hujan turun membasahiku
Menyamarkan tetes air mata
Bercampur dengan air hujan

Dingin menyergap jiwaku
Rasa hangat lalu seketika pudar
Tergantikan dengan rasa dingin
Aku menggigil oleh luka

Sepi ku dalam hujan
Aku hilang arah tujuan
Kabut menutupi jalan pulang
Seketika aku tersesat

Nezar Ray | 26/07/2016

Sembunyi

Kerumunan begitu ramai bagiku
Kesepian terlalu sunyi untukku
Aku sembunyi dari keramaian
Takut akan mulut nakal yang menghakimi

Bosan aku sembunyi di sudut
Menghindar dari mata-mata tajam
Aku takut, aku gelisah, juga marah
Meratapi diri yang menyedihkan

Ada apa denganku?
Sembunyi tak menawarkan cahaya
Gelap semakin menyelimuti pandangan
Dan rapuh merasuki jiwaku

Ingin ku keluar dari persembunyian
Mengikuti kemana arah cahaya
Namun adakah tempat untukku
Dalam dunia yang menghakimi

Nezar Ray | 25/07/2016

Rasa yang Tak Pernah Terungkap

Senja berganti rupa menjadi malam
Sunyi malam menemani hati yang sepi
Tak terbayang pujaan hati berganti hati
Meninggalkanku sepi sendiri

Rasa yang kusembunyikan menjadi luka
Ketika menatap dia dengan yang lain
Berpura-pura tak merasa sakit
Menyembunyikan luka dengan hati-hati

Rasa yang tak pernah terungkap
Kini bergejolak seakan ingin meluap
Ingin menyampaikan rasa lalu
Seketika menjadi pilu

Sesal bergemuruh dalam hati
Menyesali waktu yang sudah terbuang
Ketakutan yang dulu meraja
Kini menjadi luka yang bercampur sesal

Nezar Ray | 14/07/2016