Memilih Berdamai

berjabat_tangan_wanita

Langit kelabu, petir saling bergemuruh. Emosi jiwa tak tertahankan ingin meluap. Rasa benci terlempar dengan begitu mudahnya. Kecewa merasuk di jiwa namun rasa bangga dan terimakasih juga menjalar ke seluruh tubuh. Ingin rasa mengucap bangga atas hasil kerja keras yang beliau kerjakan selama ini. Ingin berterimakasih padanya. Namun hati juga kecewa atas ucapannya yang menyakiti hati golongan tertentu. Saya berada pada titik tengah antara rasa kemanusiaan dan rasa ingin bela keyakinan.

Palu telah diketuk pertanda vonis telah dijatuhkan. Sang tersangka pun harus siap masuk jeruji besi dua tahun lamanya. Rakyat terbelah antara yang membela dan yang menyudutkan. Saya setengah hati. Merasa sedih akan dia, tapi pada saat yang bersamaan juga kecewa akan ucapannya yang lalu. Meski maaf telah terucap, hukuman tetap bergulir dan ia harus menerimanya sebagai konsekuensi atas perbuatan dan ucapannya.

Tak penting bagaimana pendapat saya. Saya tetap menghargainya sebagai manusia, terlepas dari ucapannya yang menyakiti hati. Saya hanya manusia biasa tempatnya banyak dosa, saya tak mampu menghakiminya. Juga tak baik menyebarkan kebencian. Saya menghargainya sebagai manusia yang memiliki banyak nilai-nilai kebaikan dalam dirinya. Yang bahkan saya pun sebagai manusia masih belum siap memiliki nilai-nilai tersebut.

Menurut saya, apakah dia etnis Cina, India, Papua, Negro, Jawa, Sunda, atau Manado kah. Bagi saya, manusia tetaplah manusia. Sepanjang ia bernafas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Sepanjang ia memiliki dua mata, satu hidung dan satu mulut. Sepanjang ia memiliki postur layaknya manusia. Saya akan tetap menghargainya sebagai manusia. Karena saya tinggal di planet bumi dengan mayoritas makhluk hidup adalah spesies manusia.

Hal yang membedakan manusia dengan manusia lainnya adalah pola pikir, amal, dan perilakunya. Juga rasa kemanusiaan antar sesama makhluk hidup. Kita tahu bersama kita tak bisa memilih ingin dilahirkan menjadi etnis apa atau warna kulit apa. Memusuhi orang lain hanya karena etnis dia berbeda dengan kita adalah suatu pemikiran sempit. Sama halnya seperti menyia-nyiakan anugerah (akal pikir) yang telah diberikan Allah kepada kita para manusia. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk bertikai, karena pertikaian dan perdebatan hanya akan membuahkan kebencian.

Hindari perdebatan, terima perbedaan dengan lapang, jauhi rasa benci dan permusuhan. Jangan isi waktu dengan kegiatan yang mengundang dosa. Jangan tebarkan kebencian, karena kita hidup berdampingan. Manusia adalah makhluk sosial, saling bergantung dengan manusia lainnya. Bersahabat dengan kebencian hanyalah perbuatan yang sia-sia. Saya lebih memilih berdamai untuk hidup lebih nyaman.

Nezar Ray | 10/05/2017

Negative Thinking

Belakangan ini saya sering menjumpai banyak orang yang begitu memiliki pikiran negatif atau berprasangka buruk terhadap sesuatu. Terutama orang-orang penghuni dunia maya (sering disebut netizen) downloadtepatnya dari berbagai platform social media. Mengapa begitu. Apakah dunia menjadi begitu negatifkah atau memang sejak dulu sudah seperti itu tetapi karena dulu tidak terekspos saja. Begitu mudahnya mereka berprasangka buruk dan dengan segera langsung berasumsi jelek terhadap suatu postingan. Kebencian dengan mudahnya bertebaran dimana-mana.

Dari sekian banyak pilihan komentar, mereka lebih memilih komentar yang penuh dengan kebencian. Haruskah seperti itu? Saya rasa tidak seperti itu. Daripada berpikiran negatif bukankan lebih indah jika kita menjadi positif. Prasangka buruk tersebut hanya akan menimbulkan kebencian dan perang. Terlebih lagi juga menimbulkan persoalan baru dan lagi menambah dosa. Sebagai manusia, saya rasa nilai-nilai positif perlu dibangun lagi dalam diri kita masing-masing. Menjadikan diri sebagai manusia yang seutuhnya.

Apalagi sebagai bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang penuh sopan santun, ramah dan saling toleransi. Adalah buruk jika sebagai orang Indonesia justru melakukan hal yang sebaliknya. Kita menganut budaya timur. Saya pikir kebencian bukan untuk dibalas dengan kebencian juga. Melainkan kita perlu menyebarkan kasih dan cinta. Mereka yang menyebarkan benci bisa jadi karena tidak tahu. Jadi bukankan tugas kita untuk memberitahu hingga mereka memiliki pemahaman yang sama dengan kita. Benci karena tidak tahu. Sudah seharusnya justru kita harus merangkulnya bukan malah memperbesar masalah menjadi semakin rumit.

download-1

Sebagai manusia yang memiliki akal pikir tentu akan baik jika kita dapat berpikir dengan kepala dingin. Tidak serta merta menyerang dengan buasnya seperti binatang. Bahkan binatang sekalipun hanya menyerang ketika hidupnya terancam. Lalu kenapa kita manusia yang memiliki akal pikir lebih baik dari binatang tidak mampu menjaga emosi kita. Perlukah kita belajar dari binatang? Saya rasa kita sebagai manusia dewasa lebih mampu berpikir jernih dan mengontrol kembali apa yang keluar dari mulut kita. Karena berpikir positif jauh lebih membawa kebahagiaan.

Nezar Ray | 24/11/2016

Dunia Egois

Sejenak berpikir makna hidup tentang bagaimana aku dan apa yang sudah kulakukan dalam hidup. Mengingat masa lalu dan bertanya sudah benarkah hidupku. Bukan berarti kesalahan tak pernah dibuat. Namun kesalahan dijadikan sebuah pelajaran dan berjanji takkan melakukannya lagi. Bukan mudah tidak melakukan kesalahan yang sama, tapi adalah bodoh masuk dalam kesalahan yang sama berulang kali.

Aku pun berpikir bagaimana hidupku. Terlintas dalam pikirku aku hidup dalam dunia egois yang aku bentuk sendiri. Egois dalam arti positif namun tetap salah. Hidupku adalah tentangku dan bagaimana aku. Tidak peduli bagaimana orang lain, yang penting adalah diriku. Orang lain melakukan kesalahan, aku membiarkan karena itu dia bukan aku. Aku tak peduli. Namun aku akan memperbaiki dan mencoba berubah jika aku melakukan kesalahan.

Aku tak percaya apa kata orang. Aku hanya meyakini apa yang kurasa adalah benar. Sebelum aku benar-benar melihat buktinya jika aku salah, baru aku akan mempercayainya. Aku sudah terbentuk dengan tidak mempercayai orang sepenuhnya. Aku hanya percaya pada diriku sendiri. Tak peduli apa kata orang. Aku adalah aku. Aku adalah tentang apa yang aku ingingkan terjadi. Bukan tentang dia atau orang lain. Terdengar egois memang. Namun begitu adanya.

Itulah kenapa kusebut dunia egois. Sebuah dunia dimana semua adalah tentang aku. Bukan kau juga bukan dia. Salah? Memang salah jika dilihat dari sudut pandang konsep kebaikan. Bukankah seharusnya kita ikut memikirkan bagaimana orang lain. Bukan ikut campur urusan orang, tetapi minimal ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Tidak hanya membiarkan orang lain berbuat salah.

Namun pada kenyataannya di dunia ini kau akan lebih banyak menemui orang yang seperti aku. Orang-orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Di jaman sekarang ini, dimana kau bisa temui orang yang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Orang seperti itu sudah mulai jarang atau mungkin perlahan menghilang. Kau akan lebih sering menemui orang-orang dengan keegoisannya.

Aku bicara seperti bukan karena aku bangga hidup di dunia egois. Namun kadang aku merasa bodoh hidup berulang dengan hanya memikirkan diri sendiri. Di dunia egois kau tak akan mungkin bisa menemukan makna hidup. Misalnya tentang untuk apa kau hidup di dunia. Hidup adalah juga tentang berbagi, bagaimana kau mampu memperhatikan orang-orang yang hidupnya tak seberuntung hidupmu. Dengan memperhatikan dan membantu orang yang kesulitan, kau akan merasa hidupmu lebih berarti. Dan aku masih dalam proses ke arah sana untuk berubah.

Nezar Ray| 04/10/2016

Sahabat yang Menghilang

Teman datang dan pergi
Menyisakanku sendiri penuh tanya
Menunggu kabar indah darimu
Menanti memori lama terulang kembali

Kau sengaja putuskan tali ikatan itu
Atas satu momen kesalahan terakhirku
Lima tahun dengan berjuta momen indah
Nyatanya tak bermakna bagimu

Arogansi hati merajai sanubarimu
Memutuskan hubungan begitu saja
Tega berkata “ini adalah akhirnya”
Menghilangkan jejak, melenyapkan diri dari hidupku

Hai sahabat, begitu kerasnya hatimu
Hanya kau ingat kata-kata pahit terakhir dariku
Tak kau ingatkah lima tahun penuh bermacam rasa
Berbagi kisah, bertukar pikiran, dan tawa canda

Kata permintaan maaf dariku kau biarkan saja
Ucapmu itu tak apa tapi hatimu berkata lain
Kau hilang bersembunyi dariku
Meninggalkan cerita lama
Yang kini telah membusuk dalam memoriku

Nezar Ray | 04/06/2016

Kehidupan Seperempat Abad

Dua puluh lima tahun. Saya rasa bukan waktu yang sebentar untuk merasakan bagaimana pahit dan manisnya kehidupan. Sudah terlalu tua rasanya merayakan ulang tahun. Sudah berada pada posisi bahwa hari ulang tahun tidak lagi spesial dan menjadi sama seperti hari biasanya. Hanya bertambah usia sekaligus berkurang setahun kesempatan hidup di dunia. Tidak lagi ada tiup lilin atau kue-kue. Tidak lagi menunggu ucapan ulang tahun atau menunggu sesuatu yang sifatnya materi, cukup doa dari keluarga dan sahabat terdekat saja.

Kata orang dua puluh lima tahun adalah pintu masuk menjadi dewasa. Tapi kadang aku merasa masih belum pantas. Masih banyak hal yang belum dapat aku capai di usia yang banyak ini. Kedewasaan belum secara sempurna menyelimutiku. Kadang terpikir seandainya Neverland benar-benar ada, aku mau kesana saja. Aku takut menjadi dewasa. Namun waktu tak dapat berhenti juga tak mungkin berjalan mundur. Apa yang ada di depan harus dihadapi dengan penuh percaya diri. Berharap bahwa akan selalu ada hari baik yang menyambut dengan manis.

Tujuan hidup telah berganti. Dua puluh lima tahun hidup di dunia telah banyak memberikan banyak pelajaran. Pengalaman dan pembelajaran selama ini yang aku lewati memberikanku banyak makna kehidupan. Jalan pikirku tidak lagi mengukur semua kesuksesan dengan materi. Uang dan harta hanya sesuatu yang fana, Memang kita butuh uang tapi uang tak bisa membeli semuanya. Tujuan hidupku tidak lagi semata hanya mengejar itu.

Kali ini aku hanya ingin bahagia dan membagagiakan orang-orang tersayang di sekelilingku. Mensyukuri segala yang aku dapatkan baik itu yang mendatangkan kebahagiaan ataupun kesedihan. Karena kehidupan tidak hanya kebaikan yang akan kita dapatkan. Justru dari sebuah keburukan atau kesialan, kita akan mendapat sebuah pelajaran manis yang mendewasakan kita.

Serta belajar untuk menjadi umat yang beriman kepada Allah SWT. Mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Sebagai manusia ciptaan Allah, beriman kepada-Nya lah yang menjadi tujuan utama kita hidup di dunia ini. Di dunia yang fana ini namun banyak umat manusia yang terlena dan terhanyut dalam manisnya kehidupan hingga lupa dengan tujuan utama yang seharusnya dijalankan.

Menjadi pribadi yang lebih baik adalah suatu keharusan. Berusaha meningkatkan kemampuan diri dan belajar dari segala kekurangan. Tidak lagi mengeluh akan apa yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan. Karena bisa jadi mungkin itulah yang aku butuhkan saat ini. Intinya adalah bersyukur dengan apa yang telah dicapai bukan sibuk menangisi apa yang tidak ada. Karena mungkin saja sesuatu yang kita dapatkan itu adalah sesuatu yang orang lain inginkan. Jadi cukup bersyukur saja.

Akhir kata, happy birthday to me!! Semangat, berjuang, belajar dan menjadi pribadi yang baik, kuat dan pantang menyerah.

Nezar Ray | 16/04/2016

Sosok Berbeda

Saat ku tatap matanya, tak lagi ku kenali sinar mata itu. Seseorang yang ku tahu itu tak lagi kukenali dalam sinar itu. Dia menjadi sosok yang berbeda yang bahkan aku tak mengenalinya. Waktu yang telah kami habiskan bersama seakan tak ada artinya. Satu momen kejujuran telah meruntuhkan seluruh ikatan yang kami anggap akan selamanya. Betapa kebenaran menjadi sulit ia terima dan ia lebih memilih pergi menghindar. Pergi menjauh dariku, dari semua cerita dan waktu yang telah kita lewati bersama.

Tangan terbuka yang kuarahkan padanya tak lagi ia hiraukan. Tempat istimewa di hatiku seolah terlalu berat ia pikul, ia lebih memilih untuk melepaskannya dan membiarkan ia duduk dalam keremangan kesendirian. Aku hanya dapat melihatnya seperti itu tanpa mengetahui bagaimana dia, apa yang ia rasakan. Menjadi sulit bagiku ketika ia lebih memilih bersendiri ketika ia dapat memperoleh yang lebih. Sampai selalu muncul pertanyaan mengapa.

Bahkan hingga detik ini pun aku masih merasa ia bukan dia. Dia berbeda dari sosok yang kukenali. Sosok hangat yang penuh perhatian seakan menghilang seketika. Sosok yang kurindukan itu menghilang, lenyap tak berbekas. Tak lagi aku mengenalinya dari wajah yang jelas kuketahui itu. Kini pun aku bertanya, siapa yang sebenarnya duduk dalam remang kesendirian.

Nezar Ray | 07/02/2016

Ibu

Kalau bicara soal ibu, mungkin tak akan pernah ada habisnya. Terlalu banyak cerita dan kontribusi beliau atas hidup kita. Siapa yang tidak sayang ibunya sendiri. Bagaimana pun ibumu, di matamu ia sosok yang sempurna. Ibu yang melahirkan dan membesarkan. Betapa perjuangan dan kesakitan yang tak mungkin dapat dibalas dengan impas. Hal yang ia berikan dan curahkan semata hanya untuk anaknya. Sebagian waktu yang ia punya, dicurahkan untuk memerhatikan dan mengkhawatirkan kita.

Rasa sayang tidak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cukup dengan perbuatan dan kasih sayang yang kita tunjukkan. Tak perlu seikat bunga, cukup dengan menunjukkan perhatian dan perbuatan bahwa kita sayang kepadanya. Bahwa ibu selalu ada di hati kita.

Pernah terlintas untuk membalas segala kebaikan yang telah diberikan. Namun ibu tak akan meminta banyak, ia hanya ingin kita bahagia dan dapat hidup terjamin. Mungkin materi tak dapat membalas semuanya tapi dengan menyayanginya sudah cukup membuat ia bahagia. Hanya dengan membuatnya bahagia hingga akhir hidupnya.

Hari ibu bukan soal tentang bagaimana merayakannya tapi tentang bagaimana mengucap syukur dan berterima kasih kepada ibu. Seperti video yang saya buat sebagai ucapan terima kasi pada ibu. Berikut linknya –> Terima kasih ibu

Nezar Ray | 22/12/2015

Pergi Bukan Jawaban

Kalau memang semudah itu pergi dari masalah yang muncul, mungkin aku akan pergi begitu saja meninggalkan masalah. Namun aku bukan orang yang seperti itu. Banyak hal yang menjadi pertimbangan hingga aku memilih tetap seperti ini. Kalau pun ada tipe orang yang sanggup pergi begitu saja, itu mereka tapi bukan aku. Apa sulitnya menyelesaikan masalah agar tak ada pihak yang disusahkan. Kalaupun akhirnya pilihan untuk pergi adalah jalan terbaik ya silahkan lakukan. Tapi itu bukan aku. Mungkin kau, mungkin dia, mungkin juga mereka. Tapi bukan aku, bukan aku.

Aku akan tetap duduk di tempat dimana aku selalu berada. Menunggu jawaban dari sebuah alasan yang tak terungkap. Kalaupun alasan itu akan tetap terkunci rapat, aku tak apa. Ya aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin kembali seperti dulu dimana kita duduk bersama di kursi yang kita buat bersama. Aku masih duduk di kursi itu menunggu kau kembali duduk bersama lagi. Mengurai tali yang dulu kita bertiga buat kusut. Masing-masing kita saling introspeksi diri, berkaca pada diri masing-masing. Aku tahu tali yang kusut itu hanya bentuk dari kesalahpahaman yang mendadak terjadi.

Jika ingin kembali, silahkan. Tanganku terbuka. Namun jika ingin pergi, tolong ucapkan salam perpisahan.

Nezar Ray | 12/09/2015

Sebuah Alasan

Tak pernah tahu jika hanya karena sebuah alasan bisa menjadi sebuah permasalahan. Dimulai dari sebuah alasan yang terasa seperti tidak dapat diterima logika. Lalu ada alasan lain yang sengaja ditutupi di balik alasan besar. Meminta seseorang untuk mengungkapkan alasannya, salahkah itu? Egoiskah aku jika ingin mengetahui alasan tersebut? Pikiranku selalu dipenuhi pertanyaan itu. Aku tak menyalahkan orang tersebut. Bahkan jika memang alasan itu tak sanggup dia utarakan, biarkan aku mengetahui kenapa aku tak diijinkan mengetahuinya. Hal yang aku tahu hanyalah jika seseorang menolak mengungkapkan alasannya, bisa jadi ia tak percaya padaku.

Nezar Ray | 11/09/2015