Beauty and The Beast (2017): Membawa Keajaiban Menjadi Nyata

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Setelah sukses dengan menghadirkan Maleficent dan Cinderella dalam versi live action, kini giliran Beauty and The Beast hadir dalam live action. Versi animasinya sendiri, Beauty and The Beast rilis pada tahun 1991 silam. Termasuk salah satu film animasi yang sukses saat itu karena berhasil masuk nominasi Academy Awards dalam kategori Best Picture. Beauty and The Beast pun menjadi film animasi pertama yang berhasil masuk kategori tersebut. Kini Disney menghadirkan Beauty and The Beast dalam versi live action.

Rilis sejak tanggal 17 Maret 2017, Film Beauty and The Beast diperankan oleh Emma Watson sebagai Belle, Dan Steven sebagai Beast dan Luke Evans sebagai Gaston serta beberapa pemeran pendukung lainnya. Film fantasi musikal ini disutradarai oleh Bill Condon dan diproduseri oleh David Hoberman dan Todd Lieberman. Naskah film ditulis oleh Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulus berdasarkan film animasinya tahun 1991 lalu dan dongeng karya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont.

Beauty and the Beast

Ceritanya tentu sudah familiar dalam benak kita — tentang seorang wanita cantik bernama Belle yang sangat suka membaca, yang tinggal dengan ayahnya di sebuah desa kecil. Ia sering dianggap berbeda oleh masyarakat sekitar karena kesukaannya terhadap membaca, sehingga sering kali ia merasa terjebak dalam desa tersebut. Penduduk desa tak ada yang memahaminya.

Lalu suatu ketika ayahnya tersesat di hutan dalam perjalanan pulang. Tanpa sengaja ia terperangkap di suatu istana oleh Beast yang misterius. Kemudian Belle berusaha menyelamatkannya dengan menggantikan posisi ayahnya disana. Hingga akhirnya ia tinggal bersama Beast di istana tersebut. Beast sendiri merupakan seorang pangeran tampan yang terkena kutukan oleh penyihir karena kesalahannya di masa lalu.

Filmnya sangat memanjakan mata dengan visualisasi keindahan fantasi yang dibuat nyata. Misalnya saja seperti bagaimana perabotan di istana Beast menjadi hidup. Suasana magis begitu terasa ketika berada di istana. Sekali lagi Disney berhasil menghidupkan cerita fantasi. Diiringi dengan lagu-lagu indah yang diaransemen oleh Alan Menken. Sebut saja saat scene lagu “Be Our Guest”, kita dibawa pada keindahan fantasi yang indah terasa begitu magis dan fantastis. Musik yang indah dan fantasi yang dihidupkan menjadi sebuah perpaduan yang indah.

gallery-1478513245-beauty-and-the-beast-house-staff

Beauty and The Beast membawa pesan penting tentang bagaimana untuk tidak selalu melihat penampilan. Sesuatu yang mulai dilupakan di era kini. Bahwa tidak penting bagaimana penampilan luar, yang terpenting adalah hatinya. Jangan menilai buku dari covernya. Istilah yang sering digunakan untuk merefleksikan bahwa isi lebih penting dibandingkan penampilan luar.

Sempat muncul rumor tentang adanya karakter gay dalam film tersebut, sama sekali tidak menyurutkan animo masyarakat untuk menontonnya. Kekhawatiran yang selama ini hadir seketika sirna dengan keindahan dunia fantasi dalam layar cinema. Bahkan menurut pandangan saya, karakter gay dalam tokoh LeFou di film ini sangat tidak kentara. Hanya sebagai ornamen penghias film bukan sebagai cerita utama. Anak-anak pun jika menonton ini saya rasa tidak akan menyadarinya. Pada akhirnya penonton terlalu sibuk menikmati paduan cerita klasik, musik yang indah dan visualisasi yang menakjubkan.

764390

Menyaksikan Film Beauty and The Beast, Saya sangat menikmatinya dan menghadirkan senyum ketika meninggalkan bioskop. Tak berhenti lagu-lagu dalam film tersebut terngiang dalam pikiran saya. Bahkan ada lagu baru dalam film ini yang menjadi favorit saya yaitu lagu yang dinyanyikan Celine Dion, “How Does A Moment Last Forever”. Film Beauty and The Beast masih tayang di bioskop-bioskop kesayangan anda. Let be the guest.

Nezar Ray | 26/03/2017

Polemik Film Beauty and The Beast, Tentang Adanya Karakter Gay

Beauty and The Beast Live Action

Setelah menunggu lama film Beauty and The Beast live action rilis, akhirnya perilisannya diiringi dengan polemik tentang LGBT. Kabarnya dalam film tersebut, diungkapkan bahwa ada 1 karakter yang openly gay. Karakter tersebut adalah LeFou, tangan kanan Gaston.

Bagi anda yang tidak akrab dengan cerita Beauty and The Beast, Gaston diceritakan sebagai pria kuat yang diidolakan banyak wanita. Namun Gaston menjatuhkan hatinya pada Belle yang berbeda dari pada kebanyakan wanita. Dengan terang-terangan, Belle menolak Gaston mentah-mentah. Penolakan Belle justru membuat Gaston semakin penasaran dengan Belle.

Kemudian pada film live actionnya yang akan rilis 17 Maret mendatang, dikisahkan bahwa LeFou (tangan kanan Gaston) adalah seseorang yang pada satu hari ingin menjadi Gaston, tapi pada hari lain lagi ingin mencium Gaston. LeFou berada pada posisi kebingungan terhadap perasaannya dan sebenarnya apa yang ia inginkan. Ini tentang seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki perasaan ini.

LeFou

Kemunculan karakter gay ini kemudian mendatangkan kekhawatiran jika akan mendatangkan pengaruh buruk terhadap anak-anak yang menontonnya. Namun sebelum khawatir, sebagai penonton bijak tentu kita perlu mencari tahu terlebih dahulu sejauh apakah “adegan LGBT” yang akan dimunculkan dalam film tersebut. Tim Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) sendiri telah menegaskan tidak akan menyensor film tersebut, karena yang ditampilkan bukan adegan seks. “Itu kan karakter LGBT (saja). Beda penilaiannya”.

LeFou adalah seseorang yang pada satu hari ingin menjadi Gaston, tapi pada hari lain lagi ingin mencium Gaston. Ia bingung dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Ini tentang seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki perasaan ini.

Komisioner LSF Rommy Fibri menyatakan “Secara faktual kan faktanya begitu (kaum LGBT ada). Film ini hanya menggambarkan bahwa situasi itu nyata ada di masyarakat”. Meskipun begitu, karena ramai diperbincangkan terkait karakter gay, film itu kembali melewati proses pleno LSF pada Kamis (09/03). Hasilnya tetap saja lulus.

Kini pertanyaannya adalah bagaimana kita menilai perihal kaum LGBT tersebut. Sebagai suatu hal yang negatif atau kita dapat menerimanya sebagai hal nyata terjadi di masyarakat. Bukan berarti mengakui LGBT sebagai hal yang benar tetapi hanya sebatas mengakui keberadaan mereka adalah nyata ada di sekitar kita.

Lewat film ini justru kita diajak untuk “berdamai” dengan kaum LGBT. Bahwa kita seharusnya mampu merangkul mereka daripada menjauhinya seakan-akan seperti penyakit menular. Karena bisa jadi mereka menjadi seperti itu bukan kemauan mereka, mungkin saja itu natural datang dengan sendirinya tanpa mereka inginkan. Jika seperti itu, bukankah menjadi tugas kita yang berada di sekitarnya untuk memberitahunya dan membantunya kembali pada jalan yang benar.

Kembali pada film Beauty and The Beast dan karakter gay pertamanya tersebut, saya rasa Disney tidak akan kelewatan dengan menyisipkan adegan tak senonoh. Disney tahu betul target film mereka adalah anak-anak. LSF Indonesia juga sudah menyatakan bahwa tidak ada adegan seks sesama jenis. Disney hanya ingin mengungkapkan bahwa kaum LGBT itu nyata ada di masyarakat. Lalu saya rasa juga tidak akan separah film Glee atau Arisan.

Jadi kemudian apalagi yang kita khawatirkan. Daripada terus khawatir, lebih baik saksikan sendiri kebenarannya dengan menonton filmnya. Beauty and The Beast akan resmi rilis tanggal 17 Maret 2017, serentak di seluruh bioskop.

Nezar Ray | 15/03/2017

SING (2016): Ketika Mimpi Harus Diperjuangkan

sing-2016

Sebenarnya sudah cukup lama nonton film ini dan entah kenapa rasanya gatal mau review film ini. Karena saya termasuk orang yang suka dengan film animasi, apalagi digabungkan dengan unsur komedi dan musikal adalah suatu perpaduan yang menarik. Saya pun waktu itu menontonnya seperti menonton konser. Filmnya dipenuhi dengan nyanyian-nyanyian yang dibawakan dengan indah oleh pengisi suara bersuara emas. Lalu filmnya juga dikemas secara menarik dengan mengangkat tema tentang mimpi yang harus diperjuangkan demi terwujudnya mimpi tersebut.

Sing diproduksi oleh Illumination Entertainment dan Universal Pictures. Dirilis di bioskop sejak tanggal 21 Desember 2016 kemarin dengan Garth Jennings sebagai sutradara dekaligus penulis naskah dalam film animasi ini. Serta diisi suara oleh Mathhew McConaughey, Reese Witherspoom, Scarlett Johansson, Tory Kelly dan masih banyak lainnya.

Sing berkisah tentang sebuah dunia yang dipenuhi dengan hewan-hewan yang dapat berdiri dengan dua kaki dan hidup layaknya manusia. Menceritakan mengenai seekor koala bernama Buster Moon (Matthew McConauhey) yang memiliki usaha di bidang teater namun karena kegagalan pada satu pertunjukkan merusak nama baiknya. Namun ia tak kenal menyerah, ia tetap berusaha mempromosikan dan melakukan inovasi-inovasi baru dalam dunia teater dengan membuat sebuah audisi menyanyi.

banner

Namun karena satu kesalahan asistennya yang kelebihan menuliskan angka nol untuk hadiahnya, audisi menyanyi ini pun menarik minat banyak orang. Antrian panjang pun terjadi di depan teaternya. Dari audisi itulah akan ditemui puluhan hewan yang memiliki suara emas yang akan dipilih oleh Moon untuk tampil di pertunjukkan teaternya.

Moon pun memilih kandidat hewan yang akan mengisi acara pertunjukkan teaternya. Masing-masing kandidat memiliki masalahnya masing-masing yang harus dipecahkan mereka demi mewujudkan mimpinya menjadi penyanyi. Film Sing menggambarkan jika sebuah mimpi memerlukan keberanian dan pengorbanan demi mewujudkannya. Bahwa kita harus menyingkirkan segala rasa takut yang menyelimuti diri dan tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa.

Filmnya sarat dengan pesan moral bahwa tiada yang mungkin di dunia jika kita menginginkannya. Seperti koala tersebut yang pantang menyerah mempromosikan teaternya dan berusaha membuatnya ramai kembali seperti waktu dulu. Serta para peserta audisi yang berusaha menyingkirkan segala rintangan demi mewujudkan mimpinya masing-masing.

Nezar Ray | 07/01/2017

HANGOUT (2016): Pembunuhan Berantai yang Dibalut Comedy

hangout-film
Poster Film Hangout

Dari sekian banyaknya film Raditya Dika, baru film Hangout ini yang menggugah saya untuk datang ke bioskop menonton film tersebut. Saya merasa tertarik karena genre tidak biasa yang ditawarkan yaitu genre thriller-comedy. Bagaimana bisa thriller yang menghadirkan ketegangan disatukan dengan comedy yang mengundang tawa. Tentu akan menjadi tontonan menarik yang tidak biasa.

Filmnya sendiri bercerita tentang 9 public figure yang diundang ke sebuah pulau oleh seorang sosok misterius. Lalu mereka mati satu persatu, mungkinkah pembunuhnya salah satu dari mereka? Ya kira-kira seperti itulah narasi yang selalu ulang-ulang diucapkan Radit ketika ditanya film Hangout itu tentang apa. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa pembunuhnya. Bisa salah satu dari mereka atau mungkin memang si sosok misterius tersebut.

Sejak teaser film Hangout keluar, pertanyaan itulah yang menguak membuat penasaran para penonton termasuk saya. Hingga akhirnya bermunculan video-video di youtube yang berusaha menebak siapa pembunuhnya. Belum lagi Radit juga menyajikan vlog 20 hari syuting film Hangout sebagai salah satu teknik promosi film. Sungguh promosi yang bagus dan brillian menurutku. Jadi wajar saja masuk hari ke-13 film ini tayang kabarnya sudah menembus 2 juta penonton. Selain karena jalan ceritanya yang menarik, timing peluncuran film ini juga tepat pada saat momen liburan.

Lebih lengkapnya film Hangout menghadirkan 9 orang public figure yang memerankan diri mereka sendiri. Mereka adalah Raditya Dika, Soleh Solihun, Mathias Muchus, Surya Saputra, Titi Kamal, Dinda Kanyadewi, Prilly Latuconsina, Gading Marten, dan Bayu Skak. Mereka diundang oleh sosok misterius ke sebuah pulau untuk alasan yang juga misterius. Kemudian satu per satu diantara mereka mati secara misterius. Hingga mereka mulai berspekulasi mengira jika mungkin saja pembunuhnya ada diantara mereka.

3-1
Salah satu scene film Hangout

Ketegangan mulai menyeruak ketika satu per satu dari mereka mulai mati. Namun tetap konten komedi mengundang tawa lebih mendominasi film ini. Film yang menarik dan cukup bagus menurutku. Walaupun menurutku ending filmnya kurang nendang serta motif si pembunuh kurang kuat. Entah mungkin karena kurang dieksplor atau apa, tapi saya rasa Radit bisa membuat yang lebih bagus dari itu. Atau juga karena saya yang terlalu berharap lebih pada film ini. Tapi secara keseluruhan, film Hangout merupakan tontonan keluarga yang menarik.

Telebih saya suka dengan akting para pemain terutama akting Surya Saputra yang meyakinkan dan terasa nyata. Ya wajar sih dia memang pemain film. Tapi yang mengejutkan adalah akting dari Prilly dan Soleh. Saya tidak menyangka mereka bisa menampilkan akting keren yang seperti itu. Saya tidak berlebihan jika bilang pandangan saya terhadap Prilly mulai berubah karena film ini. Overall, akting para pemain rata-rata bagus dan tidak mengecewakan.

Sekali lagi saya harus katakan film Hangout adalah film meanrik dari segi genre, cerita dan akting pemain. Jadi tidak salah jika saya merekomendasikan film ini utk anda tonton. Film ini cocok untuk anda yang tidak terlalu suka film thriller yang akan membuat anda tegang sejak awal hingga akhir film. Film Hangout adalah jawabannya, karena tidak akan membuat anda tegang setengah mati. Saya pun menonton ini lebih banyak tertawanya dibanding tegangnya. Filmnya cukup mengocok perut dengan lawakan ala Raditya Dika.

Nezar Ray | 06/01/2017

[FILM] Winter In Tokyo (2016): Karena Cinta Harus Dirasakan Untuk Bisa Dimengerti

winter-in-tokyo-header

“Dari ratusan buku yang sudah kubaca, memang belum ada kalimat yang benar-benar membuatku mengerti tentang cinta. Karena ternyata cinta harus dirasakan untuk bisa dimengerti”. Adalah kutipan monolog yang diucapkan Keiko, si pemeran utama dalam film Winter In Tokyo. Merupakan adaptasi dari salah satu judul seri dalam buku tetralogi empat musim karya Ilana Tan. Winter in Tokyo mulai tayang di bioskop sejak kamis lalu (11/8/2016) dan masih tayang hingga tulisan ini diturunkan. Bergenre drama romantis dan disutradarai oleh Fajar Bustomi merupakan film yang cocok bagi para remaja atau pun bagi anda yang sudah lebih dulu membaca versi bukunya yang rilis tahun 2008 lalu.

Menceritakan tentang seorang perempuan keturunan Jepang-Indonesia yang tinggal di Tokyo bernama Ishida Keiko, diperankan oleh Pamela Bowie. Perempuan yang bekerja di perpustakaan ini tinggal di sebuah apartemen kecil dua lantai di pinggiran Tokyo. Ia bersahabat dengan kakak beradik Haruka (Brigitta Cynthia) dan Tomoyuki (Brandon Salim). Suatu ketika hidup Keiko berubah sejak kedatangan tetangga baru yang kamarnya terletak tepat di depan kamarnya. Pria itu adalah Nishimura Kazuto (Dion Wiyoko), seorang street photographer. Mereka cepat akrab, lalu menjadi dekat. Kazuto mulai menyukai Keiko. Kazuto sendiri terpaksa kembali ke Jepang setelah sepuluh tahun lamanya tinggal di Amerika. Alasannya pindah ke Jepang adalah Yuri (Kimberly Ryder), gadis yang ia cintai memutuskan akan menikah dengan temannya Jason.

winter-in-tokyo-640x267

Hingga suatu hari, Keiko bertemu kembali dengan cinta pertamanya saat masih SD yaitu Kitano Akira (Morgan Oey) yang kini sudah jadi dokter. Setelah bertukar nomor telepon, mereka jadi sering jalan bersama. Di malam natal pada musim dingin, Keiko gagal berkencan dengan Akira. Kazuto yang sudah pergi ke Kobe berinisiatif kembali ke Tokyo untuk menemani Keiko makan malam. Lalu esok harinya, Kazuto juga mengantar Keiko ke stasiun saat ingin berangkat ke rumah ibunya di Kyoto. Sebelum berangkat, Kazuto meminta Keiko untuk melepaskan Akira namun belum sempat melanjutkan kalimatnya. Ia bilang akan mengungkapkan alasannya setelah Keiko kembali.

Namun sayangnya, di hari itu Kazuto dikeroyok lima pria tak dikenal. Salah satunya memukul kepala Kazuto dengan tongkat baseball. Kazuto masuk rumah sakit dan koma. Saat sadar, ia tak dapat mengingat apa pun yang telah terjadi selama satu bulan belakangan. Kazuto menderita partial amnesia atau hilang ingatan sebagian. Ia bahkan tak dapat mengingat kenangan selama bersama Keiko. Keiko menunggu Kazuto berhari-hari tanpa kabar, menanti kalimat Kazuto yang belum selesai saat di stasiun waktu itu.

Poster-film-Winter-in-Tokyo

Film ini sangat indah, baik dari penyampaian rasa dan pengambilan gambarnya. Sudut-sudut kota Tokyo tergambarkan dengan indah sebagai latar tempat Winter in Tokyo. Dialognya menggunakan bahasa Indonesia yang baku mengingat bahwa karakter dalam buku seluruhnya merupakan orang Jepang asli. Sambil sesekali menyelipkan bahasa Jepang. Penggunaan bahasa baku justru merupakan pilihan yang tepat. Dalam film dipenuhi dialog dengan untaian kata indah dan menyejukkan hati soal cinta. Begitu puitis dan mengena di hati, kalau memakai istilah anak jaman sekarang, penonton akan dibuat baper (bawa perasaan) menonton film ini.

Disebut-sebut sebagai film Indonesia pertama yang seluruh pengambilan gambarnya di luar negeri. Ceritanya manis dan menggugah rasa yang menontonnya. Terutama keindahan pemandangan kota Tokyo menjadi nilai tambah film ini. Bagi saya suasana Jepang yang dibawa film ini sangat terasa. Jadi tunggu apa lagi silakan kunjungi bioskop kesayangan anda dan saksikan sendiri bagaimana sensasinya. Winter in Tokyo masih tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Juga temukan jawabannya bagaimana akhirnya Kazuto mengingat kembali kenangannya bersama Keiko. Atau bagaimana akhirnya Keiko menemukan cinta sejatinya yang sempat hilang.

Nezar Ray | 17/08/206

FINDING DORY (2016): Tiada Mustahil, Selalu Ada Jalan Untuk Setiap Masalah

maxresdefault

Tiba-tiba saja Dory yang mengalami gangguan ingatan jangka pendek dapat mengingat kembali memori masa kecilnya. Beragam pertanyaan pun muncul di kepalanya dan saat itu pula ia berhasrat mengumpulkan kepingan ingatan yang dulu memudar kini bersinar lagi. Seketika Dory ingin menemukan orang tuanya yang muncul dalam ingatannya tersebut.

Bersama Marlin dan Nemo, Dory pun memulai pencarian menemukan orang tuanya yang hilang. Petualangan pun berlanjut, dengan bermodalkan ingatan yang sedikit mereka menelusuri jejak-jejak masa lalu Dory. Perjalanan panjang mempertemukan mereka pada teman baru dan juga segala rintangan menghadang. Namun Dory tak pernah menyerah demi peluangnya menyusun kembali ingatan yang sempat hilang dan bertemu dengan orang tuanya.

Merupakan sedikit cerita dari film Finding Dory yang kini berfokus pada kisah Dory si ikan dengan ingatan jangka pendek. Dirilis pada 16 Juni 2016, sukses menjaring banyak penonton. Diisi suara oleh Ellen Degeneres, Hayden Rolence, Albert Brooks. dan bintang lainnya masih memiliki nyawa yang sama seperti film pertamanya. Berselang sepuluh tahun dari film pertamanya Finding Nemo, nyatanya belum menyurutkan animo publik untuk menonton sekuel yang mengisahkan dunia bawah laut ini.

636028966145202549-1942082650_DORY-main-Disney-PixarMenonton Finding Dory terasa seperti nostalgia mengingat kembali rasa saat dulu menonton Finding Nemo. Bedanya kini sudah sepuluh tahun berlalu sejak Finding Nemo tayang. Jarak yang panjang tak menghilangkan sama sekali aura yang dulu sudah melekat pada film yang pertama. Dengan menguak kisah Dory, film ini sukses memikat para penonton yang penasaran dengan kisah masa lalu dari Dory.

Mengangkat Dory sebagai bintang utamanya merupakan sebuah pilihan yang tepat. Di balik sosok Dory yang inkompeten, penonton justru diajak belajar sifat positif yang ternyata dimiliki seorang Dory. Slogan “just keep swimming” yang sering dinyanyikan Dory ternyata memiliki makna tersirat bahwa kita harus terus berjalan maju dan tak menengok ke belakang seperti Dory yang terus berenang tak peduli apa yang ada di depannya tanpa berpikir apa yang akan terjadi.

Sering kali kita ketika akan melakukan sesuatu, terlebih dahulu memikirkan segala resiko yang akan terjadi hingga lupa untuk maju karena takut dan akhirnya memilih untuk mengurungkan niat. Lalu Dory juga mengajarkan bahwa di dunia ini tak ada yang mustahil, pasti selalu ada jalan untuk setiap permasalahan. Tak perlu takut, just keep swimming.

finding-dory-celebrates-mother-s-day

Nezar Ray | 07/08/2016