Anggota Keluarga Baru, Berkaki Empat

Suatu waktu datang seekor kucing ke rumahku. Aku yang merasa kasihan lalu memberikannya sedikit potongan ayam yang sedang kumakan. Esoknya ia datang lagi dan lagi meminta makan. Uniknya dia selalu datang ketika aku sedang makan, seolah-olah ia tahu kapan saja waktu makanku. Beberapa hari kemudian, kucing itu datang lagi namun kali ini bersama anak kucing. aku pikir itu anaknya. Anak kucing yang hanya seekor itu mengikutinya dari belakang. Si anak kucing terlihat ketakutan ketika aku ingin memegangnya. Mungkin karena belum kenal, anak kucing itu tak mau dipegang.

20160806_133138
Induk dan anak kucing

Induk dan anak kucing tersebut sering kulihat di teras rumahku. Si induk terlihat menyusui anaknya yang hanya seekor itu. Lama kelamaan anak kucing itu mulai bertumbuh. Induk kucing sudah tak mau lagi menyusuinya, mungkin juga air susunya sudah tidak keluar lagi. Perlahan kucoba memberikan sedikit makanan pada anak kucing itu. Awalnya ia tak mau, malah induknya yang lahap memakannya. Selang beberapa hari, sedikit demi sedikit si anak kucing mulai terbiasa denganku. Ia sudah tak lagi takut. Ia mulai mau dipegang, aku bahkan sudah bisa mengelusnya.

Anak kucing itu terus tinggal di teras rumahku, sementara induknya pergi kelayapan. Kadang induknya kembali membawakan makanan. Ketika induknya datang, si anak kucing kegirangan. Kemudian selang beberapa hari, induk kucing mulai tak terlihat lagi batang hidungnya. Ia sudah tak pernah lagi ke rumahku. Sementara si anak kucing semakin betah tinggal di rumahku. Entah bagaimana, anak kucing itu sudah seperti anggota keluarga. Bukan aku saja melainkan semua penghuni rumah lainnya juga merasa senang dengan kehadirannya. Rumahku bertambah penghuni baru, anak kucing yang kini sudah tidak kecil lagi.

Itu sedikit cerita mengenai bagaimana aku akhirnya menemukan si kucing belang tiga yang super aktif. Bagaimanapun itu aku senang dengan kehadirannya. Sekarang sudah kira-kira lima bulan aku memeliharanya, kini ia bukan lagi anak kucing. Ia telah tumbuh besar dengan perut gendutnya. Besarnya perutnya hingga aku pernah menyangka ia hamil, tapi kelahiran tak pernah terjadi. Jadi sudah dapat dipastikan, ia hanya terlalu hobi makan.

Kucing betina itu kuberi nama Pussy, panggilannya “puss” atau “mpuss”. Ya layaknya memanggil kucing. Nama yang pasaran memang, tapi paling tidak ia akan menengok ketika dipanggil. Aku tidak mengurungnya di kandang. Kubiarkan ia menjelajah rumah sesuka dia. Ia boleh tidur dimana saja asal tidak di atas tempat tidur ata sofa. Khawatir bulunya akan menempel. Aku sediakan tempat tidur tapi ia lebih suka tidur dimana saja sesuka dia. Kadang di atas tas, keset, rak, koran atau dimanapun yang menurut dia tempat yang nyaman.

Pintu kubiarkan terbuka kalau dia memang ingin keluar, aku tak mencegahnya. Aku memberikannya ruang terbuka bagi dia untuk bebas. Aku tidak overprotective. Kupersilakan ia bebas tapi tentu dengan aturan yang ia harus taati. Misalnya tidak boleh naik tempat tidur, meja makan dan juga tidak lari-larian. Perlu diketahui, Pussy bukan tipe kucing pendiam. Dia sangat tidak bisa diam, agresif dan senang bermain. Kadang ia suka berlari-larian mengajak aku bermain. Maka itulah saatnya aku meluangkan waktu sejenak bermain dengannya.

Sejak kecil, beruntungnya ia tak pernah buang air sembarangan. Seakan ia tahu ketika ingin buang air ia pergi keluar. Maka sejak itu aku sediakan pasir untuknya. Ia senang menggunakan pasirnya itu. Dua minggu sekali aku mandikan dia. Awalnya seminggu sekali namun sejak acara mandi dipenuhi dengan drama, aku putuskan untuk memandikannya dua minggu sekali saja. Ia sangat tidak suka air tapi mau bagaimana lagi karena ia tinggal di rumahku ia harus ikut peraturanku.

Semua penghuni rumah suka dengan tingkah lucunya apalagi ketika tidur dia suka mengulet memanjangkan tubuhnya hingga panjang sekali. Kecuali ketika ia membawa hasil buruannya ke rumah. Aku tidak suka. Seringkali ia membawa kecoa, cicak, hingga tikus. Hewan-hewan itu tidak ia makan tapi ia jadikan mainan. Ia lepas hewan itu kemudian ia tangkap lagi, begitu terus hingga hewan itu mati kelelahan.

Kami bahagia dengan kehadirannya di rumah ini. Terlepas apakah aku yang menemukannya atau ia yang menemukanku. Aku percaya kita tidak memilih kucing mana yang ingin dipelihara melainkan kucing itu sendiri yang memilih kita. Dan Pussy telah memilihku. Takdir mempertemukan kami dan mengajarkanku untuk lebih mengenalnya. Berusaha belajar mengenalnya lebih dalam melalui tingkah-tingkahnya atau tanda-tanda jika ia sakit. Bagaimanapun aku berharap ia dapat terus hidup bersamaku hingga ia tua. Menemaniku menjalani hidup bersama untuk memberiku satu lagi alasan untuk tetap hidup. Terima kasih Pussy dan selamat datang dalam keluargaku.

Nezar Ray | 28/03/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s