Polemik Film Beauty and The Beast, Tentang Adanya Karakter Gay

Beauty and The Beast Live Action

Setelah menunggu lama film Beauty and The Beast live action rilis, akhirnya perilisannya diiringi dengan polemik tentang LGBT. Kabarnya dalam film tersebut, diungkapkan bahwa ada 1 karakter yang openly gay. Karakter tersebut adalah LeFou, tangan kanan Gaston.

Bagi anda yang tidak akrab dengan cerita Beauty and The Beast, Gaston diceritakan sebagai pria kuat yang diidolakan banyak wanita. Namun Gaston menjatuhkan hatinya pada Belle yang berbeda dari pada kebanyakan wanita. Dengan terang-terangan, Belle menolak Gaston mentah-mentah. Penolakan Belle justru membuat Gaston semakin penasaran dengan Belle.

Kemudian pada film live actionnya yang akan rilis 17 Maret mendatang, dikisahkan bahwa LeFou (tangan kanan Gaston) adalah seseorang yang pada satu hari ingin menjadi Gaston, tapi pada hari lain lagi ingin mencium Gaston. LeFou berada pada posisi kebingungan terhadap perasaannya dan sebenarnya apa yang ia inginkan. Ini tentang seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki perasaan ini.

LeFou

Kemunculan karakter gay ini kemudian mendatangkan kekhawatiran jika akan mendatangkan pengaruh buruk terhadap anak-anak yang menontonnya. Namun sebelum khawatir, sebagai penonton bijak tentu kita perlu mencari tahu terlebih dahulu sejauh apakah “adegan LGBT” yang akan dimunculkan dalam film tersebut. Tim Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) sendiri telah menegaskan tidak akan menyensor film tersebut, karena yang ditampilkan bukan adegan seks. “Itu kan karakter LGBT (saja). Beda penilaiannya”.

LeFou adalah seseorang yang pada satu hari ingin menjadi Gaston, tapi pada hari lain lagi ingin mencium Gaston. Ia bingung dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Ini tentang seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki perasaan ini.

Komisioner LSF Rommy Fibri menyatakan “Secara faktual kan faktanya begitu (kaum LGBT ada). Film ini hanya menggambarkan bahwa situasi itu nyata ada di masyarakat”. Meskipun begitu, karena ramai diperbincangkan terkait karakter gay, film itu kembali melewati proses pleno LSF pada Kamis (09/03). Hasilnya tetap saja lulus.

Kini pertanyaannya adalah bagaimana kita menilai perihal kaum LGBT tersebut. Sebagai suatu hal yang negatif atau kita dapat menerimanya sebagai hal nyata terjadi di masyarakat. Bukan berarti mengakui LGBT sebagai hal yang benar tetapi hanya sebatas mengakui keberadaan mereka adalah nyata ada di sekitar kita.

Lewat film ini justru kita diajak untuk “berdamai” dengan kaum LGBT. Bahwa kita seharusnya mampu merangkul mereka daripada menjauhinya seakan-akan seperti penyakit menular. Karena bisa jadi mereka menjadi seperti itu bukan kemauan mereka, mungkin saja itu natural datang dengan sendirinya tanpa mereka inginkan. Jika seperti itu, bukankah menjadi tugas kita yang berada di sekitarnya untuk memberitahunya dan membantunya kembali pada jalan yang benar.

Kembali pada film Beauty and The Beast dan karakter gay pertamanya tersebut, saya rasa Disney tidak akan kelewatan dengan menyisipkan adegan tak senonoh. Disney tahu betul target film mereka adalah anak-anak. LSF Indonesia juga sudah menyatakan bahwa tidak ada adegan seks sesama jenis. Disney hanya ingin mengungkapkan bahwa kaum LGBT itu nyata ada di masyarakat. Lalu saya rasa juga tidak akan separah film Glee atau Arisan.

Jadi kemudian apalagi yang kita khawatirkan. Daripada terus khawatir, lebih baik saksikan sendiri kebenarannya dengan menonton filmnya. Beauty and The Beast akan resmi rilis tanggal 17 Maret 2017, serentak di seluruh bioskop.

Nezar Ray | 15/03/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s