Dunia Egois

Sejenak berpikir makna hidup tentang bagaimana aku dan apa yang sudah kulakukan dalam hidup. Mengingat masa lalu dan bertanya sudah benarkah hidupku. Bukan berarti kesalahan tak pernah dibuat. Namun kesalahan dijadikan sebuah pelajaran dan berjanji takkan melakukannya lagi. Bukan mudah tidak melakukan kesalahan yang sama, tapi adalah bodoh masuk dalam kesalahan yang sama berulang kali.

Aku pun berpikir bagaimana hidupku. Terlintas dalam pikirku aku hidup dalam dunia egois yang aku bentuk sendiri. Egois dalam arti positif namun tetap salah. Hidupku adalah tentangku dan bagaimana aku. Tidak peduli bagaimana orang lain, yang penting adalah diriku. Orang lain melakukan kesalahan, aku membiarkan karena itu dia bukan aku. Aku tak peduli. Namun aku akan memperbaiki dan mencoba berubah jika aku melakukan kesalahan.

Aku tak percaya apa kata orang. Aku hanya meyakini apa yang kurasa adalah benar. Sebelum aku benar-benar melihat buktinya jika aku salah, baru aku akan mempercayainya. Aku sudah terbentuk dengan tidak mempercayai orang sepenuhnya. Aku hanya percaya pada diriku sendiri. Tak peduli apa kata orang. Aku adalah aku. Aku adalah tentang apa yang aku ingingkan terjadi. Bukan tentang dia atau orang lain. Terdengar egois memang. Namun begitu adanya.

Itulah kenapa kusebut dunia egois. Sebuah dunia dimana semua adalah tentang aku. Bukan kau juga bukan dia. Salah? Memang salah jika dilihat dari sudut pandang konsep kebaikan. Bukankah seharusnya kita ikut memikirkan bagaimana orang lain. Bukan ikut campur urusan orang, tetapi minimal ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Tidak hanya membiarkan orang lain berbuat salah.

Namun pada kenyataannya di dunia ini kau akan lebih banyak menemui orang yang seperti aku. Orang-orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Di jaman sekarang ini, dimana kau bisa temui orang yang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Orang seperti itu sudah mulai jarang atau mungkin perlahan menghilang. Kau akan lebih sering menemui orang-orang dengan keegoisannya.

Aku bicara seperti bukan karena aku bangga hidup di dunia egois. Namun kadang aku merasa bodoh hidup berulang dengan hanya memikirkan diri sendiri. Di dunia egois kau tak akan mungkin bisa menemukan makna hidup. Misalnya tentang untuk apa kau hidup di dunia. Hidup adalah juga tentang berbagi, bagaimana kau mampu memperhatikan orang-orang yang hidupnya tak seberuntung hidupmu. Dengan memperhatikan dan membantu orang yang kesulitan, kau akan merasa hidupmu lebih berarti. Dan aku masih dalam proses ke arah sana untuk berubah.

Nezar Ray| 04/10/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s